


WIDA KRISWANTI
KEBANYAKAN orang mudah dibuat iri kesuksesan para pesohor, dengan sekian prestasi, popularitas tinggi, hingga kemapanan ekonomi.
Ingin rasanya menjadi seperti Nikita Willy atau Asmirandah. Bisa tampil di sinetron stripping, digila-gilai penggemar, dan hidup berkecukupan. Atau mengikuti jejak Agnes Monica, yang dengan suara emasnya, tampil di ajang American Music Awards dan bergaul dengan artis-artis internasional.
Mungkin tidak, sih jadi artis seperti mereka? Mungkin banget.
Seperti dituturkan Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis di biro psikologi Westaria (www.westaria.com), hanya dua hal yang membedakan kesuksesan hidup seseorang dan orang lainnya, yaitu keinginan (niat) dan usaha.
Mau menjadi artis atau apa pun yang terkesan muluk, pasti bisa selama ada niat dan usaha. Lalu bagaimana dengan bakat (potensi), kesempatan, atau takdir? Ternyata, semua berlaku sesudahnya--setelah adanya keinginan dan usaha.
"Bakat akan sia-sia jika tidak ada keinginan dan usaha (lebih dulu)," ujar Anggia.
"Bakat adalah kemudahan yang Tuhan berikan, hanya jika kita "menginginkan"melakukannya. Jadi, sekalipun seseorang mempunyai bakat, tapi dia tidak menginginkannya, tidak akan menghasilkan (kesuksesan) apa pun," imbuhnya.
Sama halnya dengan kesempatan. Banyak orang merasa gagal (dan kemudian menyalahkan kesuksesan orang lain) karena merasa tidak mendapat kesempatan.
"Padahal, kesempatan itu datang kepada siapa pun yang ‘menginginkan’-nya. Perbedaannya adalah, ada yang jeli melihat dan menangkap kesempatan, ada yang tidak. Kejelian melihat dan menangkap kesempatan, pun tidak dimiliki setiap orang. Lagi-lagi, orang yang telah ‘mengusahakan’ dirinya menjadi lebih cerdas, lebih berwawasan, lebih peka, akan mudah melihat kesempatan dan peluang," urai Anggia.
Faktor berikutnya yang sering dijadikan alasan untuk menyerah, takdir atau ketentuan Tuhan. Mereka yang menyatakan diri tidak sesukses orang lain, alasannya karena "terbentur" takdir. Kemiskinannya, kebodohannya, ketidak-berhasilannya, dan lain-lain diterima sebagai takdir.
"Padahal jelas, Allah tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum itu tidak mengubah dirinya sendiri. Mengubah di sini tentunya berkaitan dengan seberapa besar ‘keinginan’ dan seberapa keras ‘usaha’ yang dilakukan untuk menjadi lebih baik," papar Anggia.
Setelah mengetahui modal kesuksesan itu adalah keinginan dan usaha, berikut Anggia memaparkan langkah-langkahnya.
- Mulailah segala sesuatu dengan niat yang baik. Dan sebaik-baiknya niat adalah karenaNya. Dan miliki keinginan untuk selalu menjadi lebih baik dalam setiap bagian hidup.
- Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Dengan cara membuat rencana-rencana yang matang, membuat tujuan-tujuan jangka pendek dan panjang, melakukan langkah-langkah teratur, disiplin terhadap segala hal (waktu, target, dan lain-lain), konsisten, dan kesungguhan terhadap usaha dalam mencapai keinginan.
- Ingatlah untuk selalu belajar. Dari setiap kegagalan. Dari setiap keberhasilan. Belajar dari siapa pun dan apa pun (jangan melihat siapa yang berbicara, tapi dengar apa yang dia katakan). Belajar menerima kesalahan, belajar memaafkan, belajar untuk selalu membuat hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
- Bersyukurlah atas segala hal baik dan buruk yang Anda terima. Semuanya pasti Dia berikan dengan maksud dan tujuannya. Bersyukurlah untuk hal kecil dan hal besar. Bersyukurlah sejak setiap bangun tidur, karena itu akan menjadikan hari Anda selanjutnya lebih baik.
- Work hard, play hard. Nikmati! Ada satu hal yang sering kita lupakan. Yaitu menikmati apa pun yang telah kita capai. Bagaimana pun menikmatinya, berbeda pada setiap orang. Menikmati sekecil apa pun keberhasilan atau kesuksesan kita adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta dan bentuk penghargaan kepada diri. Catatan, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Nanti Anda sukses tapi tidak bahagia, lho!
(wida/gur)
http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/psikologi/18190-meraih-kesuksesan-seperti-para-bintang.html
022 70936588 / 022 91913793