
WIDA KRISWANTI
KANDASNYA hubungan percintaan Raffi-Yuni dan ribut-ribut di dunia maya antara Anji-Wina yang semula berencana menikah melahirkan cibiran. Status janda Yuni dan Wina pun diungkit-ungkit. Memang kenapa kalau janda?
Janda dan asumsi negatif masyarakat
Janda karena ditinggal mati atau cerai, sama berisiko untuk digunjingkan. "Sebetulnya lebih didasari bahwa perempuan memang makhluk cantik dan istimewa yang telah Tuhan ciptakan. Maka berita tentangnya (perempuan) lebih menarik. Positif maupun negatif," buka Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis EFT (emotional freedom technique) di biro psikologi Westaria (www.westaria.com).
Awalnya adalah asumsi masyarakat yang berkembang liar saja. Ketika seorang perempuan telah menjadi janda, dianggap lebih mudah digaet laki-laki. Dengan asumsi, perempuan (dianggap) lemah, butuh perlindungan, kasih sayang, dan lain-lain. Apalagi ketika janda ini sudah memiliki anak. Semakin membuatnya "berdaya tarik". Ada kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya. Maka dianggap, pasti butuh laki-laki.
"Sekali lagi, ini asumsi. Kenyataannya bisa jadi sangat berbeda," tegas Anggia.
Begitu banyak perempuan cerdas dan berprestasi yang mampu memenuhi kebutuhan materi untuknya dan anaknya dengan berbagai profesi dan pekerjaan. "Masalahnya, asumsi itu lebih banyak berkembang. Dan terhenti pada pandangan janda mudah digaet (karena ‘butuh’)," ungkap Anggia. "Seakan-akan menjadi benar, janda-janda lebih kurang pertimbangan," imbuhnya. Jadi, mau saja dengan berondong. Mau saja digombali playboy.
Layak mendapatkan yang terbaik
Jika Anda – yang menjadi janda karena ditinggal mati – tidak segera bangkit, tidak segera berpikir dan bertindak cerdas, keterpurukan Anda (dalam hal apa pun: kesedihan, ketidaksiapan menjaga diri dan anak-anak, juga terkait pemenuhan kebutuhan materi) akan menjadi sinyal salah yang bisa tertangkap terutama oleh laki-laki dan bisa dimanfaatkan.
Jika Anda – yang menjadi janda karena perceraian – hampir pasti ada konflik yang mendahului. “Tapi apa pun cerita yang melatari status janda seseorang, tentu harus betul-betul dipersiapkan langkah-langkah selanjutnya,” ujar Anggia.
- Percaya bahwa takdir datangnya dari Allah. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan alasan menjanda adalah takdir baik. Misalnya, ketika (ternyata) pasangan yang kita nikahi bukanlah orang yang baik sebagai pasangan hidup. Mulai dari berperilaku kasar, suka berselingkuh, lebih banyak memberi pedih dibanding bahagia, cerai dan menjanda tentu lebih baik.
- Ikhlas, sabar, dan pasrah. Insya Allah, Anda bisa bangkit tanpa harus bergantung kepada orang lain. Apalagi jika orang lain itu adalah laki-laki lain yang Anda harapkan bisa segera memenuhi kebutuhan-kebutuhan (jasmani-rohani) Anda. Karena kondisi bergantung inilah yang biasanya memunculkan beberapa perilaku yang cenderung negatif (dalam asumsi masyarakat), seperti lebih mudah didekati, terburu-buru mengambil keputusan (apakah sekadar dekat dengan laki-laki atau pun untuk menikah).
- Tidak berarti Anda menutup diri, lho! Anda hanya perlu introspeksi, libatkan dan mintalah dukungan anak-anak, juga keluarga.
- Tingkatkan kualitas diri. Karena Anda harus lebih cerdas dari sebelumnya. Cerdas secara emosi, cerdas secara sosial, dan terutama cerdas secara spiritual.
Jika kiri-kanan Anda masih saja berkomentar miring, padahal Anda sudah melakukan yang terbaik, ikhlaskan. Jadikan motivasi untuk tetap menjadi benar dan sesuatu yang tetap membuat kita waspada.
(wida/gur) http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/psikologi/18112-memang-kenapa-kalau-janda.html
022 70936588 / 022 91913793