Kok, Bisa-Bisanya, Berfoto Telanjang?

image

 

WIDA KRISWANTI

 

TERSEBARNYA foto bugil aktris Hollywood Scarlett Johannsen beberapa waktu lalu sedikitnya membuat kita lagi-lagi tersentil. Masih saja aktris sekaliber dia diam-diam memotret diri bugil dengan ponselnya?

Padahal, melalui karya-karya profesionalnya di layar lebar maupun sesi pemotretan, sudah cukup banyak si cantik itu memamerkan kemolekan tubuhnya.

Tapi perilaku semacam itu tidak terbatas dilakukan para pesohor. Orang-orang biasa atau mereka yang diperkirakan tidak mungkin berbuat demikian pun banyak melakukannya. Seperti aparat pemerintah atau pelajar.

Sebuah perilaku abnormal

"Bagaimana pun, itu termasuk perilaku abnormal," cetus Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis di biro psikologi Westaria (www.westaria.com).

"Perilaku terlalu suka dan mencintai tubuh sendiri, sampai kemudian mengabadikannya dalam bentuk foto atau video, apakah itu untuk konsumsi publik atau hanya koleksi pribadi. Dari sisi psikologi klinis, kami bisa saja mengkajinya seabgai perilaku ekshibisionis atau narsis dan kebutuhan eksistensi berlebih,"terangnya.  

Salah siapa? Banyak bahasan mengambinghitamkan derasnya arus informasi yang membawa contoh-contoh perilaku itu melalui iklan, film, media, dan sebagainya. Atau juga menyalahkan para artis yang marak kedapatan berperilaku seperti itu.

"Terlepas dari itu semua, yang paling patut dipersalahkan adalah miskinnya moral spiritual. Dan semakin sulitnya kita menerapkan suatu norma dalam kehidupan sekarang ini. Menjadi hitam atau putih, seakan-akan salah. Kita nampak dituntut untuk berada di ranah ‘abu-abu’," Anggia menganalisis.

"Misalnya, tentang pakaian yang normatif untuk perempuan. Dalam tatanan masyarakat kita (dan dunia) menjadi tidak jelas. Semua lebih mengedepankan gaya hidup, kenyamanan, fleksibilitas, dan lain-lain. Akhirnya, semakin samarlah norma yang berlaku. Baik secara norma agama yang sudah jelas aturannya, juga norma masyarakat, atau norma yang umum berlaku. Semuanya menjadi serbalonggar,"Anggia mencontohkan.

"Inilah cikal bakal yang membuat eksploitasi terhadap tubuh menjadi berlebih,"simpulnya.

Moral spiritual sebagai bekal

Cukup mengerikan, membayangkan perilaku itu mungkin saja (tanpa sadar) dilakukan kita atau pun anggota keluarga, seperti anak-anak. Apalagi jika rekaman-rekaman "ranah pribadi" itu sampai bocor dan tersebar luas, seperti telah banyak terjadi. Untuk itu, Anggia memberikan beberapa pemahaman agar kita dan keluarga terhindar dari kemungkinan berperilaku abnormal itu.

-     Waspada terhadap perilaku ini. Sifatnya seperti virus, menyebar cepat dan tanpa disadari. Tanda-tandanya tidak langsung dengan memotret atau merekam diri tanpa busana sehelai pun. Diawali dengan pakaian minim, sangat minim, pakaian dalam, sampai betul-betul tanpa pakaian. Mungkin tidak terasa salah dan dosanya, karena melihat begitu "umumnya" perilaku itu di sekeliling kita (baik masyarakat umum maupun selebriti).

-    Perilaku ini merupakan pelanggaran norma. Atau seseorang yang melakukannya memang minim pengetahuan tentang norma itu sendiri. Untuk kita pribadi, tentu harus lebih mencerdaskan moral spiritual kita. Sehingga agama tidak sekadar dalam KTP saja. Kitab suci tidak sekadar dibaca. Ibadah tidak sekadar ritual. Melainkan harus sampai kepada moral spiritual.

-    Untuk para orangtua, tentu harus sangat sadar akan aturan-aturan dan norma-norma; baik norma agama, norma hukum, maupun norma masyarakat. Itu harus ditanamkan dan dibiasakan sejak dini. Paling utama adalah dengan menjadi role model (suri teladan) bagi anak-anak, sehingga terbentuklah moral spiritual pada diri mereka.

-    Jika moral spiritual sudah terbentuk dalam diri dan juga anak kita, tidak peduli seberapa derasnya informasi di luar sana, tidak peduli seberapa rusak moral masyarakat di sekeliling kita, seberapa lemah hukum memagari terkait urusan-urusan normatif, kita akan selamat. Karena tetap berpegang teguh kepada apa yang disebut moral spiritual.

(wida/gur)

 

http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/psikologi/16996-kok-bisa-bisanya-berfoto-telanjang.html

 

Welcome
image

Biro Konsultasi Psikologi WESTARIA

022 70936588 / 022 91913793


WESTARIA merupakan sebuah badan usaha yang secara professional bergerak dalam pengaplikasian praktek profesi psikologi berupa pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia, konseling, pelayanan psikotes , serta terapi psikologis.
interior concept & 3D visual
image

contact : info.asktous@gmail.com

www.asktous.tumblr.com

Artikel Terbaru
Menu utama
comment

Artikel
SLINK
Copyright © 2012 westaria · All Rights Reserved