


WIDA KRISWANTI
JADI pemarah, berarti (merasa) dulunya tidak pemarah. Pemarah berbeda artinya dengan marah. Marah adalah perilaku yang tidak mendasar (disebabkan oleh sesuatu).
Sedangkan pemarah itu perilaku yang cenderung mendasar, sehingga sering dikategorikan sebagai sifat. Pemarah, biasanya sering marah-marah, yang belakangan akan menimbulkan penyesalan.
"Karena pemarah, marah-marah untuk melampiaskan emosi terpendam yang ada di dalam dirinya (katarsis)," jelas Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis EFT (Emotional Freedom Technique) di biro psikologi Westaria (www.westaria.com).
"Nah, jika Anda pernah marah kepada seseorang atau sesuatu, lalu merasa menyesal setelahnya, ketahuilah, saat itu Anda sedang marah-marah. Dan jika Anda menyadari bahwa akhir-akhir ini sering merasa demikian, artinya Anda telah menjadi orang pemarah", sambungnya.
Menjadi 'si pemarah', tidak terjadi dalam satu hari satu malam. Ini membutuhkan waktu dan proses. Cepat atau lambatnya tergantung pada beberapa hal. Tapi, "kenapa saya jadi pemarah?", Anggia memaparkan beberapa penyebabnya:
-Pemarah bukan penyakit turunan. Tidak ada gen pemarah. Tapi, sangat mungkin seseorang yang pemarah itu adalah anak dari orangtua (dua-duanya atau salah satunya) yang pemarah. Karena perilaku adalah hasil belajar. Jika terbiasa melihat orangtua suka marah-marah atau pemarah, anak cenderung mengikutinya.
-Seseorang jadi 'si pemarah' karena ketidakmampuannya mengatasi dan menyelesaikan masalah. Tidak bisa, karena cenderung tidak biasa dan tidak dibiasakan. Sehingga masalah sering diabaikan dan tidak diselesaikan. Maka, masalah yang tidak ada menjadi ada, yang kecil menjadi besar. Karena itu, jangankan ada masalah yang besar atau cukup besar, dengan masalah kecil pun, orang pemarah bisa marah-marah.
-Jika Anda merasa bukan golongan pemarah tipe pertama maupun kedua, mungkin Anda adalah golongan pemarah ketiga. Yaitu mereka yang secara sadar mengetahui perubahan dalam diri, menjadi orang yang emosional, mudah marah (marah-marah), kemudian terjebak dalam sisi 'si pemarah'.
Hal yang membuat Anda tidak nyaman dan tidak mengenakkan. Anda sadar, bahwa baru-baru ini (beberapa tahun atau beberapa bulan belakangan) memiliki emosi negatif yang cenderung dipendam, atau terpendam dan tak terselesaikan. Baik disengaja maupun tidak disengaja. Lalu permasalahan dasarnya telanjur membesar, sulit dicari ujung pangkalnya, dan sulit diselesaikan. Sementara masalah baru muncul setiap harinya. Kemudian Anda terpaksa jadi 'si pemarah' yang begitu mudah marah, kepada hal besar, kecil, bahkan kepada hal yang tidak ada.
Agar Sifat Pemarah Tidak Menjadi Milik Anda
1. Biasakan menyelesaikan masalah kecil maupun besar. Bisa karena biasa, semakin terbiasa, semakin cerdas dan singkat dalam penyelesaian masalah.
2. Biasakan melihat masalah secara objektif. Sehingga penyelesaian akan lebih logis dan rasional.
3. Selesaikan masalah berdasarkan skala prioritas: penting-segera, tidak penting-segera, penting-tidak segera, tidak penting-tidak segera.
4. Jika telanjur ada masalah (emosi negatif) yang belum Anda selesaikan, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus Anda selesaikan. Mintalah bantuan ahli. Karena 85 persen keluhan fisik, psikis, dan perilaku (marah-marah adalah keluhan perilaku) disebabkan adanya emosi negatif yang cukup mengakar dalam diri Anda.
(wida/gur)
http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/psikologi/18980-kenapa-saya-jadi-pemarah.html
022 70936588 / 022 91913793